Thursday, 23 March 2017

Kisah menuntut ilmu: bermimpi untuk kuliah

Walaupun dari keluarga miskin, tetap bisa kuliah

Ketika itu aku masih mondok disebuah pesantren yang bernama Ashhabul Yamin, pesantren tersebut dipimpin oleh ulama besar yaitu Abon Buni, beliau merupakan alumni dari Mudi Mesra Samalanga. Setiap harinya aku selalu melakukan pengajian ilmu agama di pesantren selama 4 tahun lamanya, biaya hidup semenjak di pesantren, semua tunggangan hidup semua kepada mama, mamakulah yang menghidupkan keluarga, mamaku selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan dan segalanya untuk kami bisa beraktivitas seperti biasanya.
Setelah dia menyelesaikan semua tugas yang dititipkan oleh Tuhan kepadanya, kemudian dia bergegas untuk pergi mencari nafkah untuk hari keesokannya.
Dimana ada tawaran yang bisa menghasilkan rezeki yang halal dia terima demi kami, dia tak seditpun mengeluh dan melampiaskan susah dan lelahnya kepada kami, mama pernah berkata “Wahai qiratul ayyun, kalian tidak perlu bekerja, biarkan mama yang akan bekerja untuk kalian, walaupun kalian sudah berpisah dengan papa, namun mama akan selalu ingin menjadi pencari nafkah untuk keluarga ini, yang penting kalian rajin mengaji, itu saja yang mama harapkan dari kalian semua, supaya nanti takkala mama sudah pergi meninggalkan kalian untuk selama-lamanya akan ada yang bisa membaca kitab suci tersebut untuk mama, bacaan itulah yang akan menjadi kado yang sangat istimewa untuk mama, ketika mama berada dialam ketiga sana”. Aku sangat berharap impian sederhana mama itu bisa terwujud, amin yaa rabbal ‘alamin.
Setiap hari alur cerita hidup mama tersayang begitu, dan aku mulai sadar betapa susahnya mama yang selau membimbingku dari kepayahan hidup, terkadang seminggu sekali dia berobat ke rumah sakit untuk kesembuhan penyakit yang deritanya, setiap aku bertanya, dia selalu menjawab “mama baik dan sehat-sehat saja” dia tak pernah mengatakan sakitnya kepadaku. Dulunya dia bugar, kini mulai sakit-sakitan, tubuhnya yang dulu kencan kini mulai berkeriput, rambut yang dulunya hitam kini juga mulai memutih perlahan-lahan, kutatap mata dia yang berbinar-binar dan mulai menesteskan air mata haru, air mata bangga, air mata bahagia melihatku sudah menjadi tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Tanpa ada papa, dia berhasil mendidikku sampai kini.
Tak terasa sudah 11 tahun papa meninggalkan kami dan akupun sangat kurang tahu tentang kronologis kehidupannya sekarang, apakah dia baik-baik saja atau tidak. Semoga allah akan selalu memberikan hidayah dan petunjuk untuknya, walaupun sangat susah untuk menjumpainya lagi, namun aku berharap kesusahan itu akan terganti dengan kemudahan untuk menjumpainya di padang mahsyar nanti. Hidup tanpa seorang ayah sangatlah susah, beban semuanya akan ditanggung oleh seorang wanita yang karamah, namun kini aku sadar yang mana diatas langit ada langit juga, kepedihan yang aku rasakan belum begitu berat, namun akan ada lagi seseorang dikejauhan sana yang lebih menderita. Begitulah kehidupan yang diciptakan oleh Allah, diberikan berupa sedih dan bahagia, seperti isi ayat alqur’an dibawah ini:
“Wahai manusia, kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian dan hanya kepada kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).
Setelah tamat SMA aku berfikir untuk menjadi yang terbaik dimata mama, bertujuan untuk membahagiakannya, ketika itulah aku mulai serius belajar ilmu agama agar aku menjadi anak yang saleh, anak yang lebih dalam agama. Aku telah berjanji kepada diriku sendiri, yang mana aku ingin menjadi seorang ustadz dan aku suka juga dengan dunia perkuliahan, namun itu tidak akan mungkin aku bisa kuliah, karna aku sadar aku bukan orang kaya berbeda dengan mereka, ketika itu aku telah bertahan di pesantren menuju 4 tahun, namun ada berita dari seseorang, yang bahwa ada dibuka lowongan beasiswa kuliah dari LPSDM Pemda Aceh dari S1 hingga S3 dalam negri dan luar negri.
Maka kemudian aku pergunakan kesempatan emas ini dengan penuh keyakinan, Namun Alhamdulillah Allah berkhendak dengan qudrahnya, maka kami berjumlah 27 orang termasuk saya lewat testing dan terpilihlah kami ditetapkan sebagai perwakilan dari seluruh Aceh dan kamipun mendapatkan beasiswa LPSDM Pemda Aceh Tahap I, Alhamdulillah akhirnya aku bisa melakukan perkuliahan, walaupun sebelumnya tidak percaya diri dan merasa ragu, karna dari Aceh sangat banyak yang melakukan testing beasiswa tersebut, mungkin sudah beginilah nasibku yang telah dituliskan oleh Tuhan sebelumnya di loqhil mahfudz.
Maka Pemda Aceh menetapkan S1 saya di Politeknik Negeri Lhokseumawe di jurusan Teknik Kimia pada program studi Teknologi Kimia Industri.

No comments:

Post a Comment